header-photo

Istana Bogor


Kota Bogor kaya akan keanekaragaman tempat wisata yang mengenang sejarah. seperti contohnya adalah Istana Bogor. Istana Bogor terletak di pusat kota Bogor, Jawa Barat, lebih kurang 60 km dari Jakarta. Komplek istana ini terletak di atas tanah seluas sekitar 28 hektar,
yang ditumbuhi oleh kira-kira 100 buah pohon besar. Di halaman rumput yang membentang luas hidup bebas ratusan ekor rusa.


Istana Bogor yang terkenal saat ini, dahulunya bernama Buitenzorg atau San Souci, hanya merupakan sebuah tempat pesanggrahan dari Gubernur Jenderal G. W. Baron Van Imhoff yang luas halamannya mencapai 28.4 hektar dan dengan luas bangunan 14.892 meter persegi. Pada 10 Agustus 1744, Gubernur Jendral G W Baron van Imhoff mengadakan inspeksi ke daerah Cianjur, Jawa Barat, yang kemudian menemukan tempat yang dianggap strategis dan cocok untuk beristirahat yaitu di daerah Bogor. lstana Bogor ini dibangun pada bulan Agustus 1744 dan berbentuk tingkat tiga. Namun pada tahun 1834 beberapa bagian dari istana itu roboh dan hancur akibat adanya gempa yang melanda daerah Bogor dan sekitarnya karena meletusnya Gunung Salak.



Pada tahun 1850, Istana Bogor dibangun kembali, tetapi tidak bertingkat lagi karena disesuaikan dengan situasi daerah yang sering gempa itu. Pada tahun 1870, istana Bogor dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal Belanda. Selama masa Gubernur Jenderal Belanda maupun lnggris (DaendeIs Van der Cappelen dan Sir Thomas Stamford Raffles), bentuk bangunan Istana Bogor telah mengalami berbagai perubahan.

Pada 1745, Gubernur Jenderal tersebut memerintahkan untuk membangun sebuah gedung pesanggrahan dengan arsiteknya meniru bangunan gedung Bleinheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat Oxford di Inggris, dan bangunan ini diberi nama Buitenzorg, yang artinya "bebas masalah/kesulitan".

Pada 1750-1754 pesanggrahan ini mengalami kerusakan akibat serangan pasukan yang dipimpin oleh Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang yang kemudian diadakan perbaikan dengan tetap mempertahankan bentuknya pada masa Gubernur Jenderal Jacob Mossel.

Pada 1808-1811 Gubernur Jenderal Willem Daendels menambah gedung di sebelah kiri dan kanan gedung induk, sedangkan gedung induk dijadikan dua tingkat. Untuk menghias halaman yang luas itu, didatangkan dan dipelihara enam pasang rusa yang berasal dari perbatasan India dan Nepal. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826) terjadi penambahan bangunan yaitu dibangunnya sebuah menara di tengah-tengah gedung induk. Pada 10 Oktober 1834 terjadi gempa bumi yang mengakibatkan bangunan ini rusak berat. Pada 1850, pada masa Gubernur Jenderal Duy Mayer van Twist, bangunan lama dirubuhkan dan dibuat bangunan baru satu tingkat dengan gaya bangunan Eropa abad kesembilan belas. Selain itu diadakan penambahan dengan dibangunnya dua buah jembatan penghubung antara gedung induk dan gedung sayap kanan serta sayap kiri, namun pada perkembangannya jembatan penghubung ini dirubah menjadi koridor. Bangunan tersebut sempurna pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pahud de Montanger (1856-1861). Pada 1870 Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh-Stachower adalah orang terakhir yang menggunakan Istana Buitenzorgh, yang kemudian menyerahkannya kepada pemerintah pendudukan Jepang yang kemudian dikalahkan oleh tentara sekutu pada akhir Perang Dunia II.

Dengan adanya pernyataan kemerdekaan RI, kira-kira 200 pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat menduduki Istana Buitenzorg dan mengibarkan bendera merah putih yang kemudian dipaksa meninggalkan istana tersebut oleh tentara Gurkha. Pada akhir 1949 istana Buitenzorg yang kemudian disebut Istana Bogor diserahkan Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Pemerintah Indonesia mulai memakai Istana Bogor pada Januari 1950. Pada 1952 di bagian

depan induk ditambahkan bangunan tambahan yang ditopang oleh sepuluh pilar bergaya Ionia, menyatu dengan serambi muka yang ditopang oleh pilar berjumlah enam yang bergaya sama. Anak tangga yang semula berbentuk setengah lingkaran diubah bentuknya menjadi lurus.
















Istana Bogor adalah sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden. Beberapa peristiwa penting dan bersejarah yang pernah terjadi di Istana ini antara lain Konferensi Lima Negara pada 28-29 Desember 1954, pembahasan masalah konflik Kamboja yang dikenal dengan JIM pada 25-30 Juli 1988 dan pertemuan APEC pada 15 November 1994 serta peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia adalah penandatanganan Surat Perintah 11 Maret 1966.

Bangunan utama Istana Bogor disebut Gedung Induk, didalamnya terdapat Ruang Teratai, Ruang Garuda, Ruang Film, Ruang Perak, Ruang Kerja, Ruang Makan, Pantri dan beberapa ruang tidur serta ruang induk melengkapi baik disayap kanan dan kiri.

Jika ditelusuri lebih dalam, Istana Bogor memiliki berbagai macam seni rupa patung didalamnya yang mayoritas objeknya berupa wanita. hal ini dikarenakan, presiden pertama Indonesia menyukai akan seni rupa patung berobjek wanita. kita dapat melihat koleksi-koleksi patung tersebut tersebar di dalam istana. Didalam Istana Bogor ini pula, terdapat beberapa makam bawah tanah belanda.

Sayangnya, Istana bogor ini tidak terbuka untuk umum. akan tetapi, jika ingin melihat Istana Bogor lebih dekat, datanglah kebogor pada hari Minggu dengan membawa wortel. apa hubungan wortel dengan Istana Bogor? ya, masyarakat kota bogor sering kali bercengkrama dengan rusa-rusa jinak yang hidup di area Istana Bogor ini dengan memberi makan rusa-rusa tersebut. kabarnya, sebagian rusa yang berada di Istana Bogor ini, juga pernah dipindahkan ke Monas-jakarta.

oleh karena itu, berwisatalah kebogor. tidak hanya untuk berwisata, tapi juga untuk mengenang sejarah yang tidak akan hilang oleh waktu..

pustaka: http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-16666-Istana-Kepresidenan-Indonesia.html
images: http://images.google.co.id/images?gbv=2&&hl=id&q=istana+bogor&&sa=N&start=80&ndsp=20

Sate Padang Jam Gadang @ Saras


Di dunia ini ada 4 macam makanan yang saya suka banget. Yang pertama Chicken Cordon Bleu. Yang kedua nasi goreng, yang ketiga fettucini/spaghetti carbonara. Dan yang keempat baru deh sate padang.

Kenapa saya suka sate padang? Well, ada beberapa alasan. Yang pertama, di tempat sate padang ada kerupuk kulit, nggak lucu dong saya ke warung sate padang tapi belinya kerupuk kulit aja. Yang kedua, saya suka makanan panas, dan setahu saya kuah sate padang yang meresap mengalir melalui kerongkongan selalu enak untuk dinikmati. Dan yang ketiga, sate padang selalu mudah ditemukan di penjuru kota di Indonesia, yang artinya kapanpun saya mau, saya selalu bisa datang dan memuaskan rasa lapar saya. Haha.

Gara-gara kesukaan saya dan keluarga saya terhadap sate padang, jadilah seringkali kami berburu dan mencoba berbagai jenis sate padang yang ada di setiap sudut kota Bogor. Dan akhirnya pilihan kami jatuh ke Sate Padang Jam Gadang. Kenapa? Yang pertama, harga relatif murah, hanya 10000/porsi. Terus relatif sepi sehingga kami tidak perlu mengantri untuk berhasil dalam misi kami untuk mendapatkan sate padang. Dan yang ketiga, meski relatif sepi, rasa juga tidak kalah dengan sate padang yang sudah terkenal duluan seperti yang disamping Damri lama dan depan KFC. Ada 2 alasan lain sih, dekat sama rumah saya yang berlokasi di villa duta dan banyaknya pilihan makanan lain di daerah saras kalau tiba-tiba saja saya berubah pikiran.

Mengenai higienitas, jangan ragu untuk mengkonsumsi sate padang disini, berbeda dengan sate padang lainnya yang ada di kota bogor. Sate Padang Jam Gadang ini dibuat dengan menggunakan standar baku dunia food and beverages, misalnya saja penggunaan sarung tangan dalam pemotongan daging.

Jadi bila anda semua ingin mencari sate padang yang enak, berstandar higienitas tinggi serta kerupuk kulit yang enak dateng aja kesini. Nggak bakal nyesel deh!

Food: B+

Venue:B

Service:B